biologikuindah

Just another WordPress.com site

Peran EQ dalam kesuksesan May 1, 2012

Filed under: Uncategorized — liasavitriromdani @ 12:29 pm

Kebanyakan dari para orang tua masih mendewakan IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Kemampuan anak hanya diukur dari nilai akademis. Jika nilai rapornya mencapai skala 8-10, ia akan dianggap anak pandai, cerdas, dan pintar. Padahal “kepintaran” di atas kertas itu bukanlah “kepintaran sejati”. Pemahaman salah kaprah ini diyakini oleh sebagian besar para orang tua. Siapa yang memiliki IQ tinggi, kelak akan lebih sukses hidupnya daripada orang yang memiliki IQ rata-rata. Padahal dalam prakteknya tidak selalu demikian. Misalnya, tidak sedikit pemilik IQ tinggi justru terpental dari ketatnya persaingan memasuki dunia kerja.

Hasil penelitian Daniel Coleman, konon IQ hanya memberi kontribusi 20% dari kesuksesan hidup seseorang. Selebihnya bergantung pada kecerdasan emosi (emotional intelligence atau EQ) dan sosial yang bersangkutan. Di sisi lain, 90% “kebehasilan kerja” manusia ternyata ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sisanya (sekitar 4%) adalah kemampuan teknis.

ada juga penelitan jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, mereka yang kerap mendapat nilai tes paling tinggi di perguruan tinggi dulu ternyata hidupnya tak terlalu sukses dibandingkan dengan rekan-rekannya yang memiliki IQ biasa saja. Dalam hal ini kesuksesan diukur lewat besaran gaji, produktivitas, serta status bidang pekerjaan mereka. Dalam sebuah survei terhadap ratusan perusahaan di Amerika Serikat, terungkap pula faktor yang menjadikan seorang pemimpin atau manajer jauh lebih berhasil dari yang lain. Yang terpenting bukan kemampuan teknis atau analisis, tapi justru hal yang berkaitan dengan emosi atau perasaan dan hubungan personal. Empat hal yang paling menonjol adalah kemauan, keuletan mencapai tujuan, kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerjasama, dan kemampuan memimpin tim.

Masih menurut penelitian, bahwa IQ manusia rata-rata meningkat 20 poin dalam 20 tahun terakhir. Artinya, di atas kertas, orang makin cerdas. Tapi apakah kecenderungan itu membuat hidup manusia jadi lebih bahagia? Ternyata tidak. Di balik tingginya IQ, justru kemampuan manusia dalam memahami dan mengendalikan emosi malah menurun.

Survei pun menunjukkan adanya kesamaan fakta di berbagai belahan dunia, bahwa anak-anak generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional ketimbang pendahulunya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, tapi di sisi lain, lebih galak dan kurang menghargai sopan santun. Lebih gugup dan mudah cemas, serta lebih impulsif dan agresif. Tak jarang mereka menarik diri dari pergaulan, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, kurang bersemangat, dan tentu saja kurang bahagia.

Data juga menunjukkan, kesejahteraan serta daya sosial anak dan remaja merosot jauh. Makin banyak di antara mereka yang meninggal karena penyalahgunaan obat bius, bunuh diri dengan alasan sepele, atau melakukan tindak kriminal di usia belasan tahun. Menurut data pada tahun 2003, 1.800.000 anak Indonesia menjadi pecandu narkoba dan 11.344 anak ditangkap polisi karena melakukan tindak kriminal. Hal itu terjadi karena IQ hanya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis (otak kiri). Sedangkan EQ lebih banyak berhubungan dengan perasaan damn emosi (otak kanan).

Menurut Prof. Sarlito banyak hal yang menjadi penyebab rendahnya kecerdasan emosi dewasa ini. Beberapa diantaranya adalah perubahan nilai sosial dalam 40 tahun terakhir, kurangnya waktu luang orang tua untuk mengasuh anak, meningkatnya angka perceraian, pengaruh televisi dan media elektronik lainnya, serta menurunnya rasa hormat terhadap institusi sekolah.

Anak yang masih mencari jati diri tidak bisa dipaksa hidup pada tingkat intelektual yang tidak sesuai dengan dirinya. Sama seperti anak yang tidak kuat di mata pelajaran matematika, tapi justru dipaksa orang tuanya masuk jurusan IPA. Tidak seperti IQ, EQ dapat dikembangkan dalam segala tingkat usia. Paling tepat tentunya sejak tahap awal perkembangan anak. Orangtua sebaiknya membangun keluarga dengan landasan sikap-sikap positif, seperti menekankan pentingnya berbagi dengan sesama, saling menyayangi, dan berorientasi mencari solusi. Komunikasi efektif harus diciptakan, agar anak terangsang untuk mendengar, mengerti, dan berpikir. Disiplin juga perlu, tetapi yang lebih mengutamakan self direction dan upaya memperbaiki diri. Sejak dini, diharapkan orang tua dapat mengajak anaknya berempati pada masalah orang lain. selain berempati, ajarkan anak untuk bisa mengekspresikan emosinya. Misalnya, jika sedang senang, tunjukkanlah agar orang lain ikut gembira. Sebaliknya, jika hendak marah, salurkan lewat cara yang tepat, agar tak semua orang menjadi sasaran kemarahan. Melalui pembelajaran tersebut anak mampu mengendalikan emosinya, mudah beradaptasi dengan lingkungan, serta mampu mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi.

Tanamkan pula sifat gigih, suka menolong, dan menghormati orang lain. Dalam hal ini orang tua ditantang untuk mengembangkan anaknya, agar tak hanya memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, tapi juga kaya wawasan dan tetap manusiawi.

Dengan EQ tinggi, kelak kesuksesan pun bisa diraih oleh anak. Sebab, dalam dirinya sudah tertanam kepercayaan diri yang tinggi, yang didapatnya dari pergaulan dengan banyak orang, kenal banyak kalangan, dan luwes dalam berteman. Pemilik EQ yang tinggi juga mampu menguasai emosi dan memiliki mental sehat, serta pandai menempatkan diri. Jadi membangun keseimbangan kecerdasan intelektual dan emosional pada anak sangat berguna demi masa depannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s